Tampilkan postingan dengan label YAYASAN PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN II SEMARANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YAYASAN PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN II SEMARANG. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2014

Do'a

Tidak ada komentar:
"Do‘a Jibril Alaihissallam Kepada Tiga Golongan Manusia Agar Mereka Semua Dijauhkan Dari Rahmat Allah"

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi


Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah:

1.Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya-pen.).
2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.
3. Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Ada beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah:

Pertama: Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’”

Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’

Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.’ [1]

Kedua: Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari keluar menuju mimbar, ketika dia naik ke sebuah tangga, beliau berkata, ‘Aamiin.’

Lalu beliau naik lagi dan berkata, ‘Aamiin.’
Lalu beliau naik lagi ke tangga yang ketiga dan berkata, ‘Aamiin.’

Ketika beliau turun dari mimbar dan selesai berkhutbah, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah mendengar sebuah perkataan darimu pada hari ini.’

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kalian mendengarkannya?’
Mereka menjawab, ‘Benar.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya Jibril menampakkan dirinya ketika aku sedang menaiki tangga, lalu ia berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan kedua orang tuanya di waktu tua atau salah satunya, lalu ia tidak memasukkannya ke dalam Surga.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’’

Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang ketika namamu disebutkan tetapi ia tidak bershalawat kepadamu.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’

Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan Ramadhan tetapi ia tidak diam-puni.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’” [2]

Al-Imam ath-Thaibi menjelaskan sebab do‘a kepada tiga golongan ini ketika beliau menjelaskan hadits yang lainnya [3] sesungguhnya shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah pengagungan kepadanya. Maka, barangsiapa yang memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah akan memuliakannya, meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang tidak memuliakannya, maka Allah akan menghinakannya.

Begitupula bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang dimuliakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barang-siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]

Maka, barangsiapa yang menemukan kesempatan untuk memuliakannya dengan melakukan qi-yaamul lail (Tarawih) dengan keikhlasan, tetapi dia tidak mengambil kesempatan itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.

Memuliakan kedua orang tua berarti memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan berbuat baik kepada keduanya dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan-lah kepada mereka perkataan yang mulia.” [Al-Israa': 23]

Orang yang diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada keduanya, terutama di waktu tua (lanjut usia), sesungguhnya mereka berdua di rumahnya bagaikan daging di atas kayu potongan, dan tidak ada yang meladeninya kecuali ia, jika anak itu tidak menggunakan kesempatan ini, maka pantaslah jika dia dihinakan dan direndahkan kedudukannya. [4]

Semoga dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kita tidak di-masukkan oleh-Nya ke dalam tiga golongan ini. Aamiin yaa Dzal Jalaali wal Ikraam.

[Disalin dari buku Man Tushalli ‘alaihimul Malaa-ikah wa Man Tal‘anu-hum.” Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang yang Dilaknat Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_____
Footnote
[1]. Al-Ihsan fii Taqriib Shahiih Ibni Hibban, kitab al-Bir wal Ihsan, bab Haqqul Waalidain (II/140 no. 409), al-Hafizh al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Tha-brani, di dalamnya ada ‘Umran bin Aban, yang ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban, sedangkan yang lainnya mendha’ifkan, sedangkan perawi yang lainnya tsiqah. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits ini di dalam Shahiihnya dari jalan tersebut (Majma’uz Zawaa-id wa Manba-ul Fawaa-id X/166). Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Ini adalah hadits shahih dengan yang lainnya, sedangkan sanadnya lemah.” (Hamisy al-Ihsaan fii Taqriib Shahiih Ibni Hibban II/140)
[2]. Majma’uz Zawaa-id wa Manba-ul Fawaa-id kitab al-Ad’iyah bab Fii Man Dzukira j ‘indahu falam Yushalli ‘alaihi (X/166). Al-Hafizh al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan perawinya tsiqah.”
[3]. Yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ.

“Merugilah orang yang disebutkan namaku (nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) di hadapannya, tetapi ia tidak mau bershalawat kepadaku. Merugilah orang yang masuk Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni. Dan merugilah seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di waktu tua (lanjut usia), tetapi keduanya tidak dapat menyebabkannya masuk Surga.”

‘Abdurrahman (salah satu perawi) berkata: “Dan aku menyangka bahwa ia berkata, ‘Atau salah satunya.’” (Jaami’ at-Tirmidzi, bab ad-Da’awaat (X/372 no. 3545). Al-Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib, dari riwayat ini.” Syaikh al-Albani berkata, “Hasan shahih.” (Shahiih Sunan at-Tirmidzi III/177). Lihat pula catatan pinggir kitab Misykaatul Mashaabiih karya Syaikh al-Albani (I/292).
[4]. Lihat Syarah ath-Thaibi (III/1044).

Madu

Tidak ada komentar:
4 Keistimewaan Madu yang Perlu Anda Tahu

Madu memang pemanis alami yang istimewa. Sejak berabad-abad lalu madu sudah dipakai dalam dunia kesehatan. Ketahui apa saja keistimewaan madu bagi tubuh.

1. Meredakan batuk

Madu bisa menjadi penyelamat saat musim dingin. Berdasarkan studi Kesehatan pada anak dan remaja, ternyata madu lebih unggul untuk meredakan gejala batuk dan meningkatkan kualitas tidur anak. Penelitian tersebut membandingkan efek madu melawan penekan batuk dextrometropan rasa madu terhadap 100 anak yang sedang flu. Tak heran jika WHO juga memasukkan madu ke dalam cairan manis yang bisa melindungi tenggorokan dan mengurangi iritasi.

2. Mengobati luka

Sejak lama madu memiliki reputasi sebagai penyembuh. Hal ini ditemukan pada catatan dari tahun 2100-2000 sebelum masehi di Sumerian yang menyebutkan fungsi madu sebagai obat dan salep.
Di Selandia Baru terdapat madu Manuka yang berasal dari lebah yang menyerbukkan secara alami semak manuka. Khasiatnya cukup baik untuk pasien yang mengalami luka tergores dan borok. Selain kandungan antibakteri, madu ini juga menyejukkan.

Semua jenis madu juga sebenarnya berkhasiat. Studi yang dimuat di British Journal of Surgery, menyebutkan peneliti Nigeria menggunakan madu untuk menyembuhkan 59 pasien dengan maag akut. Hampir semua mengalami perbaikan dan luka yang terinfeksi serta maag menjadi sembuh sekitar satu minggu sejak menggunakan madu.

3. Mengatasi ketombe

Khasiat madu bagi kecantikan sudah sejak lama diketahui. Salah satunya adalah mengatasi ketombe membandel dan gatal, terutama akibat jamur. Caranya pun mudah, cukup oleskan campuran madu pada kulit kepala setiap hari selama beberapa minggu. Rasa gatal dan luka di kulit kepala bisa sembuh.

4. Meningkatkan energi

Ada kesalahpahaman bahwa karbohidrat tidak baik untuk tubuh. Sesungguhnya, setiap makanan sehat termasuk buah, sayuran dan kacang mengandung karbihidrat. Lagi pula, sistem pencernaan membutuhkan glukosa yang mengirim energi ke sel, jaringan, dan organ.

Madu sebanyak 17 gram karbohidrat per sendok teh dapat menjadi sumber makanan yang dapat membantu menyingkirkan rasa lesu. Madu  juga bisa dijadikan camilan sebelum atau sesudah olahraga. Selain sumber karbohidrat, madu juga sumber energi yang tidak membuat gula darah berfluktuasi dan kadar insulin bertahan lebih lama.

Selasa, 07 Oktober 2014

5 tempat berdoa saat umrah dan haji yang dkabulkan oleh Allah

Tidak ada komentar:




5 Tempat Berdoa Saat Umrah & Haji yang Dikabulkan Allah

Umrah dan haji adalah traveling spiritual untuk umat Muslim. Umat Muslim mengimani adanya sejumlah tempat di Makkah, Madinah dan sekitarnya, dimana doa akan dikabulkan Allah. Dimana saja?

Berdoa, memang bisa dilakukan dimana saja. Tapi, Makkah, Madinah dan beberapa tempat lain yang dipergunakan dalam ibadah umrah dan haji, dirasakan sangat spesial bagi traveler Muslim untuk berdoa di sana.

Menurut Ketua MUI Jawa Barat Ustadz Miftah Faridl, hal ini tidak terlepas dari hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan adanya tempat-tempat yang paling diijabah, alias berdoa di tempat ini pasti dikabulkan Allah. Itulah sebabnya, ada beberapa destinasi wisata religi yang begitu jadi rebutan jamaah haji dan umrah, untuk berdoa di sana.

Dihimpun detikTravel, Kamis (26/7/2012) berikut tempat-tempat berdoa yang diijabah:

1. Kawasan Masjidil Haram

Area di sekitar Masjidil Haram adalah dianggap mustajab, yaitu doa-doa akan dikabulkan Allah. Namun ada beberapa bagian Masjidil Haram yang diutamakan. Yang pertama adalah Multazam, bagian dari Ka'bah, posisinya di antara pintu Ka'bah dan Hajar Aswad. Multazam paling jadi rebutan jamaah umrah dan haji usai tawaf untuk berdoa.

Yang kedua adalah Maqam Ibrahim, batu pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah. Pada batu ini terdapat bekas tapak kaki Nabi Ibrahim. Tempat di belakang Maqam Ibrahim adalah tempat dimana doa dikabulkan Allah. Jamaah umrah dan haji salat dua rakaat di tempat ini seusai Tawaf mengelilingi Ka'bah.

2. Kawasan Masjid Nabawi

Masjid Nabawi di Madinah adalah masjid terpenting kedua bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah. Kawasan ini pun dianggap mustajab, terutama di Raudhah. Tempat ini aslinya adalah halaman rumah Nabi Muhammad SAW. Para jamaah haji selalu berupaya keras berdesak-desakan agar bisa masuk dan berdoa di tempat ini. Tempat ini sudah dibuka 24 jam, untuk mengurangi kepadatan jamaah. Jamaah perempuan pun punya jadwal tertentu agar tidak bercampur dengan jamaah pria.

3. Arafah saat waktu haji

Padang Arafah menjadi inti dari kegiatan haji tapi tidak dengan umrah. Hanya pada saat haji, para jamaah dari seluruh dunia berkumpul untuk melakukan ibadah wukuf dari tengah hari sampai sore hari. Berdoa saat wukuf di Arafah akan dikabulkan oleh Allah.

4. Muzdalifah saat waktu haji

Usai dari Arafah, para jamaah haji menuju ke Muzdalifah, yang berada di antara Arafah dan Mina, untuk bermalam di tenda-tenda. Jamaah biasanya mengumpulkan batu kerikil untuk dilemparkan saat Jumroh. Pada malam hari adalah waktu yang cocok untuk berdoa dan diyakini akan dikabulkan Allah.

5. Jamarat saat waktu haji

Jamarat adalah 3 pilar batu bersejarah yang pasti didatangi jamaah haji. Sedangkan jamaah umroh tidak pergi ke sini. Dalam sejarahnya, Nabi Ibrahim melempar setan dengan batu di ketiga tempat ini ketika menggodanya agar tidak mengurbankan Nabi Ismail. Ada tiga tempat untuk melempar jumroh yaitu Jumrotul Aqoba, Jumratul Wustho, Jumratul Ula. Para jamaah berdoa di sini.

Senin, 29 September 2014

7 Hikmah dan Keutamaan Qurban 'Idul Adha

Tidak ada komentar:


7 Hikmah dan Keutamaan Qurban 'Idul Adha
Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya ‘Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan untuk berkurban tahun ini, ada baiknya Anda menyimak hikmah dan keutamaan qurban pada hari-hari tersebut:
1. Kebaikan dari setiap helai bulu hewan kurban
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]
2. Berkurban adalah ciri keislaman seseorang
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
3. Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah
Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]
4. Berkurban membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa
“Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim]
5. Berkurban adalah ibadah yang paling utama
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat…”
6. Berkurban adalah sebagian dari syiar agama Islam
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Qur’an Surat Al Hajj : 34]
7. Mengenang ujian kecintaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]




Selasa, 26 Agustus 2014

MENEGOK KESABARAN DIRI KALA UJIAN DAN COBAAN MENERPA

Tidak ada komentar:


Tak ada jalan yang tak berkelok Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal-hal yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)
Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama
Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dancobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maharahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya. Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,
1. Perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala yang wajib ditaati.
2. Larangan-larangan Allah Subhanahu wata’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.
3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).
Para ulama sepakat bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran, yaitu;
1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.
2. Sabar dari perbuatan maksiat, dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.
3. Sabar atas segala musibah yang menimpa dengan diiringi sikap ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (Lihat Qa’idah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [hlm. 90—91], Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi [3/101], dan Madarijus Salikin [2/156], dll.)
Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu? Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya?
Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala? Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala?
Marilah kita menengok kesabaran diri masing-masing. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutupi segala kekurangan kita dan mengampuni segala kesalahan kita. Wallahul musta’an.
Dalam menjalani kehidupan beragama, setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. Di situlah seorang muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو
“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)
Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan “Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
Di antara ujian dan cobaan itu adalah adanya orang-orang jahat yang tidak suka terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan kebenaran. Mereka mencela, menghina, mencibir, bahkan memusuhi orang-orang yang istiqamah itu. Kondisi semacam ini bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dariorang-orang yang berdosa. Cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (al-Furqan: 31)
Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah Subhanahu wata’ala , baik muslim maupun muslimah yang berupaya istiqamah, dengan meniti jejak Rasulullah n dan para sahabatnya (bermanhaj salaf) akan mengalami ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif, merasa benar sendiri, bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat, teroris, dan ujung-ujungnya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu Allah Subhanahu wata’ala tetapkan untuk menguji kesabaran para hamba- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)
Dengan demikian, tiada jalan keselamatan dari segala ujian itu selain bersabar di atas kebenaran dengan mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, tidak mengedepankan hawa nafsu ataupun perasaan, penuh kehatihatian dalam menilai dan melangkah (ta’anni), tidak mudah bereaksi, dan tidak serampangan bertindak. Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.
Satu hal penting yang patut dicatat, patokan kebenaran bukanlah banyaknya\ jumlah pengikut atau orang yang mengerjakan sebuah amalan. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Jadi, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan mereka dalam hal menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya  Kami mendapati mayoritas mereka orangorang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyah, hlm. 60)
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah, lebih-lebih manakala dakwah tersebut berpijak di atas bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya— tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya tidak mempunyai pengikut! Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh rahimahumallah berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah seseorang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm.106)
Fenomena Syahwat dan Syubhat
Di era globalisasi modern ini, syahwat dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri kaum muslimin.
Tak hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)
Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutanistri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.
Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa q dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,
أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“Apakah dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash: 78)
Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss-nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah: 174—175)
Ada hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah secara umum.
Langkah-langkah di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri, mudahmudahan taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…
Adapun godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat. Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al- Madkhali hafizhahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (di atas, -pen.) tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ
‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”
Lebih lanjut, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan, seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniah dan Bahaiah.” (Haqiqah al-Manhaj al- Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hlm. 2)
Di era globalisasi modern ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di berbagai kanal televisi. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah. Bahkan, di dunia maya, semua orang—termasuk “pegiat dakwah”—dapat berkenalan dan bertemandengan siapa saja secara bebas dalam ajang FB (facebook) yang mengerikan itu. Para pencinta syahwat terfasilitasi untuk mengumbar syahwatnya. Demikian pula para penjaja syubhat terfasilitasi untuk menjajakan syubhatnya. Betapa banyak kasus perselingkuhan, perceraian, dan kasus-kasus rumah tangga lainnya terjadi akibat pertemanan bebas di facebook. Betapa banyak pula orangorang yang sebelumnya istiqamah di atas manhaj yang lurus menjadi melenceng akibat pertemanan bebas di facebook itu. Wallahul musta’an.
Akhir kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala  menganugerahkan kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran kala ujian dan coban menerpa. Amiin, Ya Mujibas sailin….

Jumat, 08 Agustus 2014

ENERGI SEDEKAH

Tidak ada komentar:
ENERGI SEDEKAH
Energi sedekah sangat berpengaruh luar biasa bagi pelaku dan penerimanya, jika kita mengulurkan tangan memberikan bantuan sedekah dengan ikhlas kepada orang lain, maka antara kita dengan yang menerima bantuan sedekah sama-sama tebentuk sebuah energi positif, yang secara umum bisa dikatakan bahwa sedekah dapat mempererat silaturahmi.

Makna sedekah adalah cinta kasih kepada sesama, barangkali yang demikian itulah sehingga agama dan aliran kepercayaan manapun mengenal dan melakukan sedekah. Begitu pula orang-orang atheis, penganut animisme maupun dinamisme juga melakukan perbuatan mulia yang dinamakan sedekah tersebut.

Terlepas dari syariat agama, secara fitrah kita mendambakan cinta kasih dari sesama manusia. Sebaliknya secara naluri kita akan sedih jika orang lain membenci atau memusuhi kita. Wujud dan cinta kasih dalam islam adalah sedekah, dimana sedekah menyimpan misteri dan membangkitkan energi yang luar biasa.

Anak adam yang memberikan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahui lebih kuat dari seluruh ciptaan Tuhan. Bersedekah dengan tangan kanan dan tangan kiri tidak tahu yang berarti bersedekah tanpa mengharapkan apapun, tanpa pamer, niatnya sangat bersih dan ikhlas hanya mengharap ridha Alloh SWT saja. Inilah energi sedekah yang luar biasa.

Masih banyak orang yang belum bisa melakukan hal tersebut, sedekah yang dilakukan masih mengandung unsur hawa nafsu, kecenderungan ingin dipuji, ingin pamer dan ingin mendapat balasan dari yang menerimanya. Sedekah yang demikian itulah yang kurang dapat memberikan kekuatan energi bagi pemberi maupun yang menerimanya.

"Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik. Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesaalahmu, dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan."    QS.al-Baqarah 271.

HIKMAH TURUNYA AL QUR'AN

Tidak ada komentar:
HIKMAH TURUNYA ALQUR'AN
Seperti yang diketahui bersama, bahwa Al-Quran ditrunkan secara berangsur-angsur berupa beberapa ayat dan sebuah surat atau berupa surat pendek secara lengkap dan penyampaian Al-Quran secara keseluruhan memamakan waktu hingga 23 tahun, yakni 13 tahun ketika Nabi Muhammad masih diberada di Makkah dan 10 tahun Nabi ketika di Madinah. 
Dalam ktab al-itqan, proses turunya Al Qur'an ini sebagian ulama memperkirakan lamanya Al-Quran diturunkan itu dua puluh tahun. Sebagian lagi memperkirakan selama dua puluh lima tahun, Perbedaab ini terjadi karena mereka dalam memperkirakan lamanya Rasulullah tinggal di Mekkah setelah di utus Allah, Apakah tiga belas tahun atau dua belas tahun?, Namun para Ulama sepakat mengenai bahwa Rasul tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.
Selama itulah Al-Quran diturun secara berangsur-angsur, dan memiliki beberapa hikmah yang besar. Berikut ini beberapa hikmahnya.
Hikmah Turunnya Al-Quran
Hikmah Diturunkan Al-Quran Secara Berangsur-angsur
1. Untuk Meneguhkan Hati Nabi Dalam Melakukan Tugas Sucinya.
Meski Ia dalam melakukan tugasnya menghadapi beberapa hambatan dan tantangan yang beragam macam. Demikian pula untuk menghibur Nabi pada saat-saat sedang menghadapi kesulitan,
kesedihan dan perlawanan dari orangorang kafir supaya bersabar seperti sabarna rasul sebelumnya yang mempunyai keteguhan iman dan semangat.
 Didalam Al-Quran di surat Yasiin ayat 75 , Surat Yunus 65 yang melarang Nabi untuk susah dan sedih karena omongan orang-orang kafir. Di surat Al-An'am ayat 34 mengingatkan Nabi bahwa para Rasul sebelumnya juga menghadapi sikap umatnya yang berkepala batu dan memusuhinya, tetapi mereka tetap sabar, hingga ahirnya datanglah pertolongan Tuhan.
2. Untuk memudahkan Nabi dalam menghafal Al-Quran, seba Ia Ummy (tidak pandai baca dann tulis)
3. Untuk meneguhkan dan menghibur hati umat Islam yang masih hidup di masa Nabi, sebab mereka pada permulaan sudah barang tentu mengalami kepahitan dan getirnya perjuangan menegakkan kebenaran Islam bersama-sama dengan Nabi (surat An-Nur ayat 55). Demikian pula untuk meringankan bagi ummat Islam menghaflkan Al-Quran.
4. Untuk memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada ummat Islam dalam meninggalkan sikap mental dan tradisi Jahiliyyah secara berangsur-angsur, karena mereka dan menghayati dan mengamalkan ajaran AL-Quran serta ajaran Nabi secara Step By Step. Sekiranya Al-Quran terutama mengenai hukum-hukum kewajiban dan larangan diberikan sekaligus, pasti akan mendapakan tantangan atau perlawanan yang hebat dari masyarakat yang akibatnya bisa mengganggu berhasilnya misi Nabi Muhammad.
5. Bukti yang pasti bahwa AL-Quran diturunkan dari sisi yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.
Hikmah Turunnya Al-Quran
 Demikian beberapa hikmah yang dapat di ambil dari turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur,Dari Allah kepada nabi Muhammad untuk Umatnya melalui perantara Malaikat Jibril. Seoga bermanfaat dan menambah wawasan dalam menmagami dan mentadabburi Al-Quran yang suci.

SEMOGA BERMAANFAAT :-)

Kamis, 07 Agustus 2014

Benarkah

Tidak ada komentar:

Benarkah, tidaklah wajib bagi kita untuk taat kepada pemimpin suatu daerah karena kita warga dari daerah lain??!!

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah تعالى, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga, para shahabat dan setiap orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du:
Ini adalah pertanyaan dari sebagian Da’i Salafy di Indonesia, kami ajukan kepada Syaikh dan Bapak kami Al-Mujahid Al-‘Allamah Muhammad bin Abdillah Al-Imam حفظه الله:
Salah seorang da’i turotsy di Indonesia berkata: ”Yang diwajibkan taat kepada pemimpin pada suatu daerah hanyalah penduduk daerah tersebut. Adapun warga dari luar daerah tersebut tidaklah diharuskan untuk taat kepada pemimpin tersebut, tidak secara sya’i tidak pula secara undang-undang. Semua warga hanyalah diwajibkan taat kepada pemerintah yang tertinggi, yaitu Presiden. Oleh karena itu, apabila ada warga dari luar daerah pemerintah tersebut membicarakan pemerintah itu maka itu tidak menjadi masalah.”
Pertanyaannya: Apakah perkataan ini benar lalu bisa dijadikan sebagai kaedah yang benar?
Jawaban:
Asy-Syaikh kita Muhammad bin Abdillah Al-Imam حفظه الله menjawab:
Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah تعالى, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para shahabat beliau.
Amma ba’du:
Telah diketahui bersama bahwa di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terdapat suatu landasan yang sangat agung, yaitu ketaatan kepada pemerintah (muslim). Dan ketaatan kepada pemerintah tidaklah terbatas kepada pemimpin yang tertingi dan terbesar. Namun ketaatan kepada pemerintah itu mencakup juga ketaatan kepada pemimpin tertinggi dan para pemimpin yang di bawahnya, yang sudah ditunjuk olehnya.
Dalil akan hal ini sangatlah banyak, diantaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta para pemimpin diantara kalian.” (An Nisa’: 59)
Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa yang taat kepada pemimpin yang aku tunjuk maka dia telah taat kepadaku, dan barang siapa yang tidak taat kepada pemimpin yang aku tunjuk maka dia tidak taat kepadaku.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abi Hurairah رضي الله عنه.
Maka ketaatan kepada pemerintah itu juga mencakup ketaatan kepada para pemimpin/pejabat yang telah ditunjuk untuk mengurus masyarakat. Dan prinsip inilah yang telah dipahami oleh masyarakat umum.
Adapun orang ini berkata: ”Tidaklah wajib bagi kita untuk taat kepada pemimpin suatu daerah karena kita warga dari daerah lain.” kelihatannya ucapan ini benar. Namun dalam ucapan ini terkandung kecenderungan terhadap hizbiyyah (menyempal dari ajaran islam yang benar), bahkan kecenderungan yang lebih berbahaya dari hizbiyyah. Yaitu mereka berusaha untuk menjatuhkan pemerintah daerah. Karena prinsip itu akan melegalitas para warga dari luar suatu provinsi, atau daerah, atau kota tertentu untuk berkumpul menentang suatu pemimpin di daerah tersebut, dan berusaha untuk menjatuhkan pemimpin tersebut dengan berbagai cara.
Ini adalah suatu perbuatan yang diharamkan.
Meskipun para pemimpin tersebut memiliki kesalahan dan penyelewengan, kita tetap diwajibkan untuk bermu’amalah dengan mereka sesuai dengan koridor syari’at. Bukan dengan cara yang akan memperlebar kericuhan dan kerusakan. Beberapa kesalahan memang muncul dari pemerintah, baik dari kalangan atas maupun bawah -kecuail yang dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla-. Kesalahan juga timbul dari dari masyarakat dan warga -kecuail yang dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla-.
Dan kesalahan juga timbul para da’i dan ulama yang berloyalitas kepada hizbiyyah, revolusi, dan pemikiran yang diselubungi oleh ketidakjelasan dan keraguan. Berupa upaya-upaya untuk mengganggu keamanan dan ketenangan. Dengan ini mereka akan menanggung dosa yang sangat besar berdasarkan hal-hal yang telah lewat. Misalnya hal-hal yang mereka kejar berupa upaya menjatuhkan para pemimpin dan pejabat, dengan tujuan untuk meraih jabatan mereka dan pengaruh di kalangan masyarakat.
Cara-cara (prinsip) ini sangat berbahaya dan merusak. Prinsip tersebut menyelisihi pokok ajaran ahlus sunnah wal jama’ah.
Diantara pokok ajaran ahlus sunnah wal jama’ah adalah:
  1. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. (bukan dalam membuat kerusakan atau memperparahnya)
  2. Berbaiat (mengakui dan siap taat) kepada pemerintah (muslim), dan tidak kepada selainnya. Tidak ada baiat kepada individu tertentu atau kepada pemimpin-pemimpin partai, kelompok, atau sekte.
  3. Menjauhkan diri dari menyusun suatu pemerintahan dalam kondisi pemerintah resmi masih ada.
Menyusun sebuah pemerintahan disaat pemerintah resmi masih berkuasa termasuk dari kaedah yang bid’ah (yang disusupkan dari luar ajaran islam). Dan baiat kepada selain pemerintah yang sah termasuk pokok ajaran hizbiyyah (kelompok yang menyempal dari ajaran islam yang benar). Dan termasuk dari ajaran bid’ah (yang disusupkan ke dalam ajaran islam) adalah menyusun suatu organisasi dan gerakan rahasia yang sering kita temui. (Contohnya: Al-Qaeda dan yang setipe dengannya).
Hanya kepada Allah عز وجلkita meminta pertolongan.

Rabu, 25 Juni 2014

ANAK YATIM

Tidak ada komentar:

DALAM al-Quran sebanyak 23 kali disebut
perkataan ‘yatim’ dan penggunaan kata-kata
yatim itu merujuk kepada kemiskinan dan
kepapaan. Artinya mereka yang berada dalam
golongan yatim (anak yatim) memerlukan
perhatian dan pembelaan serta tanggung jawab
dari kita semua / masyarakat agar mereka bisa
belajar dengan tenang, hidup layak dan bisa
bergembira seperti anak-anak lain yang
mempunyai ayah atau ibu.
Begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan
tentang tanggung jawab kita / masyarakat agar
memperhatikan dan memelihara anak yatim dari
segi kejiwaan serta sosial kemasyarakatannya,
dan kita dilarang untuk merendahkan, serta
menghina kondisi mereka. Tetapi realitanya sudah
berapa persen dari umat muslim yang mau
peduli mengambil tanggung jawab sebagai orang
tua dari sekian banyak anak yatim dan anak
terlantar.
FIRMAN ALLAH TENTANG ANAK YATIM :
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama
itulah orang yang menghardik anak yatim dan
tidak memberi makan orang miskin, maka
celakalah bagi orang-orang yang sholeh yaitu
orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-
orang yang berbuat riya dan enggan menolong
dengan barang berguna”.
(QS. Al-Ma’un ayat 1-7)
Allah berfirman, artinya ,“Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua
orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin….”
(QS. an-Nisa: 36).
Allah telah berfirman dalam kitab-Nya, artinya,
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari
Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah
selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu
bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan
orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata
yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan
tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak
memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil
daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”
(QS. al-Baqarah: 83).
Allah berfirman,artinya, “Sebab itu, terhadap anak
yatim janganlah kamu berlaku sewenang-
wenang” (QS. ad-Dhuha: 9)
Allah berfirman, artinya, “Bukanlah menghadapkan
wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang
miskin ,”
(QS. al-Baqarah 2:177)
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka
nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu
nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak,
kaum kerabat, anak-anak yatim, …”.
(Q.S. Al Baqarah, 2:215)
“…Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak
yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka
secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul
dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu;
dan Allah mengetahui siapa yang membuat
kerusakan dari yang mengadakan perbaikan….”.
(Q.S. Al Baqarah, 2:220)
“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang
sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar
yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu
makan harta mereka bersama hartamu.
Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan
memakan) itu, adalah dosa yang besar” . (Q.S. An
Nisaa’, 4:2)
“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup
umur untuk kawin. Kemudian jika menurut
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai
memelihara harta), maka serahkanlah kepada
mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu
makan harta anak yatim lebih dari batas
kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa
(membelanjakannya) sebelum mereka dewasa.
Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu,
maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan
harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang
miskin, maka bolehlah ia makan harta itu
menurut yang patut. Kemudian apabila kamu
menyerahkan harta kepada mereka, maka
hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang
penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah
sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (Q.S. An
Nisaa’, 4:6)
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta
anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu
menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan
masuk ke dalam api yang menyala-nyala
(neraka)”. (Q.S. An Nisaa’, 4:10)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,
karib-kerabat, anak-anak yatim, …,”
(Q.S. An Nisaa 4:36)
“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,
kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat,
hingga sampai ia dewasa…”. (Q.S. Al An’aam,
6:152)
“Dan janganlah kamu mendekati harta anak
yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik
(bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah
janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungan jawabnya”. (Q.S. Al Israa’, 17 :
34)
“Dan mereka memberikan makanan yang
disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan
orang yang ditawan”. (Q.S. Al Insaan, 76:8)
“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu
membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku
menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim”.
(Q.S. Al Fajr, 89 : 16-17)
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi
sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari
perbudakan, atau memberi makan pada hari
kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada
hubungan kerabat, (Q.S. Al Balad, 90 : 12-15)
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu
berlaku sewenang-wenang”.
(Q.S. Adh Dhuhaa, 93:8-9)
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-
kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
…”. (Q.S. Al Baqarah, 2 : 177)
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka
nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu
nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak,
kaum kerabat, anak-anak yatim, …” . (Q.S. Al
Baqarah, 2:215)
“…Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak
yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka
secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul
dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu;
dan Allah mengetahui siapa yang membuat
kerusakan dari yang mengadakan perbaikan….”.
(Q.S. Al Baqarah, 2:220)
HADIS HADIS TENTANG ANAK YATIM :
Cukup banyak hadis yang membahas tentang
anak yatim dimana ada 142 hadits yang terdapat
pada 42 kitab hadits yang membahas tentang
yatim diantaranya :
“Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti
ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk
dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR.
Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
“Barangsiapa mengambil anak yatim dari
kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan
minum, Allah akan memasukkannya ke surga,
kecuali bila ia berbuat dosa besar yang tidak
terampuni .( HR. Turmudzi)
Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah
yang terdapat di dalamnya anak yatim yang
diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-
buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di
dalamnya terdapat anak yatim tapi ia
diperlakukan dengan buruk . (HR. Ibnu Mubarak)
“Sesungguhnya, seorang laki-laki mengeluh
kepada Nabi s.a.w., karena hatinya yang keras.
Nabi s.a.w. berkata: -’Usaplah kepala yatim, dan
berilah makan orang miskin’ . (HR. Ahmad)
Anak yatim menangis, arasy berguncang. Sabda
Tuhan: Demi keagungan-Ku, siapa saja yang
menghiburnya dan menghentikan tangisannya,
Aku pastikan baginya surga (Hadis Qudsi 208)
( 17/2/2010; 17:30:44)
Barangsiapa meletakan tangannya di atas kepala
anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka
Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap
lembar rambut yang disentuh tangannya.
(HR.Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi
Aufa)
Harta-benda anak yatim tidak terkena zakat
sampai dia baligh. (HR. Abu Ya’la dan Abu
Hanifah) Tidak disebut lagi anak yatim bila sudah
baligh. (HR. Abu Hanifah)
Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak
akan menyiksa orang yang mengasihi dan
menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya
dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta
kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan
apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap
tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan
hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang
yang mempunyai kerabat keluarga yang
membutuhkan santunannya sedang sedekah itu
diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku
dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak
akan memandangnya (memperhatikannya) kelak
pada hari kiamat.
(HR. Ath-Thabrani)
Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim
hendaklah dikembangkan dan jangan dibiarkan
harta itu susut karena dimakan sodaqoh (zakat).
(HR. Al-Baihaqi)
“Tidak mungkin seorang yatim ikut memakan
jamuan makanan, lalu setan mendekati makanan
itu”‘ (HR. Ath-Thabrani)

Senin, 23 Juni 2014

PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN 2 SEMARANG

Tidak ada komentar:
GAMBAR ASRAMA PUTRA DAN PUTRI
RUANG 1/2/3
DAN  ANAK ASUH KAMI..






AYO BAGI-BAGI KEBAHAGIAN BERSAMA ANAK YATIM DAN DUAFA.
BISA LANGSUNG BERKUNJUNG DI TEMPAT KAMI
ALAMAT :PENGGARON LOR RT.06 RW.03 GENUK SEMARANG PROV.JAWA TENGAH
 ATAU BISA SALURKAN INFAQ/SEDEKAH ANDA LEWAT VIA REKENING

-BANK JATENG                :NO:3-088-02260-1  A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN
-BANK MUAMALAT        :NO:0-185-99384-9   A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN
-BANK BNI UNISULLA   NO:0-189-400-843   A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN
-BANK BRI                        NO:7060-01-002245-536 A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN
-BANK SYARIAH MANDIRI NO:0507029582/7008068709  A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN
BANK CIMB NIAGA        NO: 535-01-02655-116 A/N PANTI ASUHAN NURUL QUR'AN


petunjuk arah

 
back to top